Hilirisasi Sawit: PalmCo Bangun Pabrik di Sumatera Utara

Hilirisasi Sawit Jadi Strategi PalmCo
Hilirisasi sawit menjadi strategi utama PT Perkebunan Nusantara IV PalmCo untuk meningkatkan nilai tambah industri kelapa sawit nasional. Perusahaan ini menyiapkan pembangunan pabrik pengolahan terpadu di Sumatera Utara.
Selain itu, langkah ini sejalan dengan kebijakan pemerintah yang mendorong industrialisasi berbasis komoditas dalam negeri. Oleh karena itu, PalmCo mempercepat realisasi proyek tersebut.
Baca juga: Perkembangan industri sawit nasional (internal link)
Fokus ke Produk Bernilai Tambah
Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko K. Santosa, menegaskan bahwa perusahaan tidak lagi hanya mengandalkan ekspor crude palm oil (CPO). Sebaliknya, PalmCo mulai mengembangkan produk turunan bernilai tinggi.
Sebagai contoh, pengolahan tandan buah segar (TBS) menjadi bio propylene glycol (BioPG) mampu meningkatkan nilai ekonomi secara signifikan. Dengan demikian, strategi ini dapat memperkuat daya saing industri nasional.
Untuk referensi kebijakan, lihat situs resmi Kementerian BUMN: https://bumn.go.id
Pembangunan Dimulai 2026
Selanjutnya, PalmCo akan memulai pembangunan pabrik setelah Lebaran 2026. Perusahaan menargetkan operasional dimulai secara bertahap pada 2028.
Adapun fasilitas yang akan dibangun meliputi:
- Pabrik margarin dan shortening (40.000 ton per tahun)
- Pabrik CBE dan CBS (34.000 ton per tahun)
- Pabrik biodiesel (450.000 ton per tahun)
Dengan adanya fasilitas ini, rantai industri pengolahan sawit akan semakin kuat.
Serap Produksi Petani
Di sisi lain, proyek ini juga membuka peluang besar bagi petani. PalmCo menargetkan penyerapan hingga 2,7 juta ton tandan buah segar per tahun pada 2030.
Angka tersebut setara dengan sekitar 567.000 ton CPO. Karena itu, petani akan mendapatkan kepastian pasar yang lebih stabil.
Baca juga: Harga CPO terbaru hari ini (internal link kedua)
Dampak ke Ekonomi Daerah
Selain meningkatkan nilai tambah, proyek ini juga mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. PalmCo memperkirakan proyek ini menyerap sekitar 2.900 tenaga kerja.
Lebih lanjut, aktivitas industri ini akan memicu pertumbuhan sektor logistik dan usaha kecil menengah di sekitar kawasan. Dengan demikian, manfaatnya tidak hanya dirasakan industri, tetapi juga masyarakat luas.
