Hilirisasi Sawit: Strategi Kuat Indonesia Kuasai Pasar Global
sumber: manadopost.jawapos.com

Hilirisasi Sawit Perkuat Ekonomi Indonesia dan Stabilkan Harga TBS
Makassar – Indonesia terus memaksimalkan potensi kelapa sawit melalui hilirisasi, strategi penting untuk memperkuat ekonomi nasional, kemandirian energi, dan ketahanan pangan. Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menegaskan hal ini saat menghadiri Pertemuan Saudagar Bugis Makassar (PSBM) XXVI Tahun 2026.
Selain meningkatkan nilai ekonomi, hilirisasi membuat CPO tidak hanya diekspor mentah. Kini, produk olahannya mencakup biodiesel, sustainable aviation fuel (SAF), margarin, minyak goreng, kosmetik, dan berbagai oleokimia. Kementerian Pertanian mencatat jumlah produk turunan melonjak dari 48 menjadi 179–200 pada 2024, sehingga memberikan dampak positif bagi seluruh rantai industri sawit.
“Penguasaan lebih dari 60% produksi dunia membuat Indonesia mampu memengaruhi pasar internasional,” ujar Amran.
Dampak Hilirisasi bagi Petani
Hilirisasi langsung meningkatkan permintaan Tandan Buah Segar (TBS), sehingga harga menjadi lebih stabil. Selain itu, kemitraan dengan pabrik pengolahan membuka peluang pendapatan tambahan. Petani juga mendapatkan transfer teknologi dan keterlibatan aktif dalam rantai nilai industri sawit.
Manfaat bagi Pemerintah
Strategi hilirisasi mendorong peningkatan penerimaan negara dari ekspor produk bernilai tambah. Selain itu, efisiensi penggunaan lahan membantu mengurangi tekanan untuk membuka hutan baru. Dengan adanya biofuel, ketahanan energi nasional juga semakin terjaga.
Keuntungan bagi Investor
Investor memperoleh peluang bisnis lebih stabil dan menguntungkan dibanding ekspor CPO mentah. Sektor biofuel, pangan, dan kosmetik menawarkan risiko rendah, sementara profitabilitas tetap tinggi karena harga produk olahan lebih konsisten.
Berdasarkan data Direktorat Jenderal Perkebunan, luas kebun sawit Indonesia mencapai 16,83 juta hektare pada 2024–2025. Produksi nasional tercatat 46,55 juta ton CPO dengan produktivitas rata-rata 3,6 ton per hektare. Kontribusi terbesar berasal dari Riau (9,46 juta ton), Kalimantan Tengah (7,59 juta ton), Kalimantan Barat (4,94 juta ton), dan Kalimantan Timur (4,29 juta ton).
Plt Direktur Jenderal Perkebunan, Abdul Roni Angkat, menekankan bahwa hilirisasi memastikan manfaat ekonomi dirasakan luas, mulai dari petani hingga industri. Strategi ini juga menjaga efisiensi lahan dan keberlanjutan lingkungan, sekaligus menegaskan posisi Indonesia sebagai produsen sawit terbesar sekaligus pengendali pasar dunia.
Baca juga: Ekspor Sawit ke AS Masih Stabil Meski Ada Tarif Baru
